Followers

Saturday, 7 November 2015

Ini Puisi: ''Bau Badan''

Setidaknya dengan itu, atau dengan ini, aku bisa bikin puisi. Kalau menurutmu ini bukan puisi, ya aku nggak peduli. Tapi menurutku, ini adalah puisi. Puisi yang buruk dan ngawur! Dan inilah puisinya: "Di kota ini, wujudmu memang ngehits. Penampakanmu pun sangat familiar dan brutal. Itu terbukti ketika sekumpulan anak muda (khususnya cewek) yang sedang nongkrong di cafe, kedai, atau dimanapun mereka berpijak dan bergosip, selalu membicarakan tentang orang hits menurut mereka yang ada di kota ini. Dan, namamu ada dibagian dari pembicaraan mereka. Bau badanmu yang harum dan khas itu juga cukup terkenal. Tapi buatku tidak, karena nggak bisa bertahan lama. Baru kucium sebentar, sudah hilang begitu saja. Sehingga tidak bisa masuk dan menembus ke dalam lemari ataupun koper pakaian"

Itu lemari atau koper pakaian, bisa diartikan dengan: Heart. Silahkan cermati sampai kau tau apa makna dari puisi yang ngawur di atas.

Thursday, 5 November 2015

KAMU BUKAN DARI BUMI

Kamu Bukan Dari Bumi


Harus ikhlas untuk bisa menghargai sebuah perpisahan. Harus melupakan untuk bisa menghargai sebuah kekecewaan. Juga harus santai dan tenang untuk bisa menghargai sebuah kegelisahan. -Akim Mahesa


Aku anggap saja kau cuma numpang lewat. Dan beristirahat sejenak ketika kau melewatiku. Hanya untuk sekedar meminta minum karena mungkin kamu kehausan. Juga kelelahan karena bosan. Entah itu bosan dalam hal apa, terserah saja. Mungkin dengan kehidupanmu.

Suatu kebosanan yang mungkin membuatmu ngelantur dan seperti membabi buta. Lalu nyasarlah kamu ke tempatku yang kebetulan sedang sepi. Hanya untuk bersikap ramah dan biar tidak dibilang sombong, maka aku dengan senang hati mempersilahkanmu untuk mampir. Terserah saja habis ini kamu mau kemana. Melangkahlah sesuka hatimu selama itu bisa membuatmu senang dan tidak menyakiti perasaan orang.

Ketika kau sudah benar-benar pergi, tentu saja kau tak akan pernah kembali lagi kesini. karena mungkin kamu sadar, bahwa kamu salah memilih tempat untuk bersinggah walaupun hanya untuk sejenak.

Atau, aku anggap saja waktu itu kamu sedang mabuk berat. Keluar dari Bar kemudian Jalan sendirian sambil sempoyongan. Padahal tentu saja di dalam Bar itu ada banyak cowok. Dan mereka adalah teman-temanmu. Kamu seperti tak tau arah mau jalan kemana. Lupa jalan pulang. Dan lupa siapa dirimu sebenarnya.

Kamu datang dengan tiba-tiba dan sangat mengagetkanku. Membuatku berfikir secara otomatis dan bingung kamu ini siapa? Datang dari planet mana? Apa kamu membawa kebahagiaan? Apa justru kesedihan dan kekecewaan yang akan merugikan perasaanku nantinya? Apa kamu beneran manusia? Yakin? Apa alien?

Ah, aku nggak peduli siapa kamu. Nggak peduli juga apa yang akan kamu lakukan. Selama aku tetap waspada dan hati-hati, aku akan baik-baik saja. Toh, kamu hanya numpang lewat dan mampir doang. Toh, mungkin kamu juga beneran sedang mabuk berat dan tidak waras.

Tugasku, hanya menampungmu sebentar. Membiarkanmu leyeh-leyeh dulu disini sampai kau tersadar. Tanpa mempersilahkanmu masuk ke ruangan yang paling dalam. 

Namun nyatanya, ruangan itu lupa aku kunci. Masih terbuka lebar untuk siapa saja termasuk kamu. Aku rasa, kamu hanya butuh tidur sebelum esok harinya kamu pergi. Aku rasa, kamu harus lapar dulu untuk bisa menghargai sebuah makanan. Aku rasa, kamu beneran sedang mabuk berat dan akan lupa apa yang sudah kamu lakukan selama kamu di sini.

Kamu masuk ke ruangan itu dengan diam-diam. Mengendap-ngendap seperti maling. Lalu mengobrak-ngabrik semua isi yang ada dalam ruangan itu. Mengobok-ngobok seperti Joshua ketika masih kecil dengan tanggung jawab yang minim. Atau bahkan, kamu tidak punya tanggung jawab sama sekali. Kamu mengambil suatu barang yang paling berharga milikku. Yaitu hati. Ya, kamu mengambil hatiku sebelum ahirnya kamu benar-benar pergi tanpa permisi. Kamu mengecewakanku. Kamu sudah membuat aku gelisah. Kamu membuat tidurku nggak nyenyak. Kamu membuat aku membantai nyamuk semalaman habis-habisan. Hanya untuk pelampiasan kemarahan. Kamu membuatku selalu menahan kantuk setiap malam karena berharap hatiku akan kamu kembalikan.  

Kamu hanya terdiam seperti orang yang sedang semedi. Seperti orang bisu yang memang tidak bisa berkata-kata. Seperti orang buta yang memang tidak bisa melihat di sekitarnya seperti apa. Kamu mengabaikan. Kamu seperti bukan manusia. Nggak bisa jaga perasaan orang. Lekas pergi usai puas menerobos pintu (baca: hati).

Sampai ahirnya aku tersadar, bahwa Ini sudah berlalu. Waktu yang membawamu pergi. Pergi yang jauh. Jauh sekali. Ke planet asalmu. Karena aku rasa, kamu bukan dari bumi. Waktu juga yang sudah membawa hatiku kembali. Kembali pulih seperti semula. Sudah rapi dan tidak berantakan lagi. Terima kasih waktu. Aku berhasil tidak membuatmu menunggu.

Demikian, mudah-mudahan kamu semua masih belum mengerti. Salam sayang. Diketik di tempat yang sepi. Tempat dimana aku selalu bikin air terjun atau buang air kecil. Toilet!

Akim Mahesa
Kamis, 5 November 2015