Jika saya boleh memungkinkan,
yang mungkin saja ini adalah sok tau atau memang tau. Ah pokoknya ini hanyalah
sok tau yang mengatas-namakan mungkin. Hasil dari mengamati dan pengalaman
pribadi. Mungkin, ya mungkin saja. Apa sih yang nggak mungkin? Bukankah di
dunia ini nggak ada yang nggak mungkin?
Biar saya nggak dibilang sok
tau, maka dari itu, ini mungkin saja. Atau memang benar. Ah entahlah. Hampir
semua orang yang ada disini itu tergambarkan sebagai seorang yang gampang
banget ngambek, tersinggung, melebih-lebihkan, sensi, dan lebih parahnya lagi
suka ngomongin temen. Jelek-jelekin temen sendiri ke banyak orang. Bener nggak?
Kalau bener berarti nggak salah kan? Kalau nggak salah berarti bener? Iya
bener? Apa salah? Apa salah dan bener?
Biar apa sih jelek-jelekin
temen sendiri? Kenapa ngotot banget
seakan-akan mengklaim diri kalian sendiri paling baik dan benar? Justru kalian
akan terlihat lebih buruk jika memburukan orang lain. Ya meskipun orang itu
buruk, tapi tak perlu lah kalian membeberkan keburukan orang itu ke banyak
orang. Kasihan. Nggak baik juga. Itu namanya menyebarkan aib. Dan itu dosa.
Baiknya itu lihat diri kalian sendiri saja sudah baik apa belum.
Kenapa sih harus jadi orang
yang gampang banget tersinggung dan marah? Kenapa sih harus jadi orang yang
susah banget untuk sabar? Ketika di jalanan macet, kalian membunyikan tlakson
motor atau mobil dengan sangat keras dan begitu angkuhnya kepada kendaraan lain
yang ada di depan kalian. Seakan-akan itu jalan punya bapakmu. Dan mereka semua
harus minggir. Ketika pesen minuman nggak dateng-dateng, kalian marah-marah dan
nyalahin pelayan pake segala bilang pelayannya klemar-klemer, nggak sagseg.
Coba lihat di sekeliling, yang pesen minuman bukan kalian doang! Tapi banyak!
Ah kalau masalah itu sepertinya saya sendiri. Udahlah..katanya mau hidup damai?
Nggak usah cari masalah gitu lah.
Jika benar itu tidak ada,
maka kita diam saja. Jika salah itu tidak ada, maka kita juga diam saja. Kita
berbicara ketika benar dan salah itu ada. Harusnya kita bisa bicara selain itu.
Atau jika kita ingin bicara, bicara saja tak perlu ada alasan. Anggaplah kita
ini adalah dua orang berbeda, tanpa salah dan benar. Maka dari itu, saya
nurutin teman saya untuk cari masalah. "Cari Masalah" dalam merangkai
kata-kata. Ini adalah episode kedua. Yang dimana episode kedua itu adalah
lanjutan dari episode pertama. Ini hanya permainan kata-kata saja yang kita
rangkai. Jangan dianggap serius.
Akim Mahesa
Emang masalah yang seperti
apa lagi sih yang pengen kamu cari? Bukannya hidup ini memang sudah penuh
dengan masalah? Masalah hati, masalah
perasaan, masalah ekonomi, dan masalah-masalah lainnya lagi yang memang
bermasalah.
Atta Presley
Aku tau hidup ini memang
sudah kebanyakan masalah. Makanya biar ga stres aku suka cari masalah. Ya kaya
ngerjain orang, jailin orang, buat sebel orang atau ngungkit masahlalu orang
yang ditinggal sama mantanya karena udah dapet yang lebih bisa mendesah. Jadi
dari masalah-masalah yang ada biar ga semakin bermasalah, marilah kita cari
masalah.
Akim Mahesa
Seharusnya, carilah masalah
yang bisa nyelesain masalah-masalahmu yang sangat bermasalah. Kalau ada.
Sayangnya nggak ada. Yang ada, justru masalahmu jelas akan semakin banyak jika
terus mencari masalah. Untuk soal mendesah, sepertinya dijaman posmedern ini
sudah banyak banget yang pinter ah ah ah (baca saja: kelon).
Atta Presley
Aku ga yakin kalo
masalah-masalahku akan terselesaikan. karna pasti nanti aku akan mendapatkan
masalah yang baru lagi. Dan ini masalahnya aku lagi pengen cari masalah. Karna
biar pikiranku ga terlalu fokus hanya pada masalah. Jadi cari masalah dengan
orang yang bisa mendesah itu luar biasah.
Akim Mahesa
Selesaikan dulu
masalah-masalah yang belum
terselesaikan, jika itu memang belum selesai. Karena, ya itu benar kata kamu.
Masalah baru kadang akan selalu datang. Mungkin akan ada orang yang menunggumu
di depan dan memberimu masalah lagi, lagi, dan lagi. Jadi, tak perlu lah kamu
mencari masalah. Masalah dateng sendiri. Nggak perlu dicari. Tapi tenang, akan
ada orang juga yang siap menyambutmu ketika kamu sudah selesai dengan
masalahlumu. Ya itu sih mungkin. Soal mendesah, mending kita buang saja. Takut
jadi tambah parah ketika kebanyakan mendesah.
Atta Presley
Masah lalu ku yang rata-rata
kebanyakan terlau kesuram-suraman. Sebenarnya sudah berlalu tapi masih
terlintas di pikiranku. Ketika dulu aku pura-pura buta, ngemis di tetangga, aku
di siram dan di maki-makinya. Dan ketika aku di sekolah, pura-pura kemasukan
jin Uks. Aku pun di siram dan di maki pak jati tukang sapu sekaligus
penggembala sapi. Itu contoh kecil saja aku suka cari masalah. Yang bener-bener
bermasalah dan akhirnya aku di cap sebagai orang yg suka cari masalah. Tapi
masalahnya aku suka. Jadi gimana dong? Masalah?.
Akim Mahesa
Mau masahlalu kamu kesuram-suraman
kek, mau kamu dulu pernah ngemis di tetangga kek, pake acara buta segala kek,
mau kamu disiram dan di maki-maki kek, mau kamu kemasukan jin Uks kek, jin
iprit kek, apa jin Tomang kek, dan yang terahir, mau kamu dicap sebagai orang
yang suka cari masalah kek, aku nggak peduli. Tentu saja nggak masalah. Itu
masalahmu. Bukan masalahku. Loh kok aku jadi marah-marah ya? Hehe maap. Tapi
tenang aja, atas nama cari masalah, aku siap menjadi jari tengahmu. Yang kamu
pakai untuk maki musuh-musuhmu. Selesai!


No comments:
Post a Comment