Followers
Tuesday, 21 April 2015
Perbedaan Hipster dan Mainstream
Re-post dari seorang blogger bernama rickorokers haha. Maaf ada sedikit yang saya edit hehe
Judul : Perbedaan Hipster dan Mainstream
Penulis : Andrico
Kategori : Istilah
Rating : 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
Pas nulis judulnya saya sendiri langsung bilang "judul yang aneh...". Oke, terlebih dahulu saya mau bilang saya ini bukan psikolog atau sosiolog jadi kalau kamu nganggep baca tulisan gak berbobot ini cuma buang waktu, please...tinggalin aja. Tapi kalo kamu punya waktu untuk dibuang-buang monggo lanjut baca.
Saat ini lagi booming (walau saya ga ngerasa gitu...) istilah mainstream dan hipster. Yang unik, keduanya seolah-olah berlawanan satu sama lain. Apa memang demikian? Hmmm...
Hipster menurut penelusuran Google (hahaha!! malu`) adalah sebutan untuk kaum sub-kultural. Identik dengan gaya dan cara yang berbeda dari yang ada kebanyakan atau yang kebanyakan ada. Hadoh ribet, gini aja deh...maksudnya yang gak mau ikutin pasaran gitulah.
Sementara mainstream sederhananya adalah sesuatu yang pasaran, umum, lagi trend, booming, dan sejenisnya. Pokok e kebalikannya hipster. Lalu apa hubungannya hipster dan mainstream dalam ruang lingkup sosial terutama anak muda?
Nah, disini nih masalahnya. Saya sendiri gak bisa menafsirkan sebab defenisi akhirnya pasti sesuatu yang ambigu. Itulah keunikan fenomena sosial. Saya cuma menyingkap. Karena singkap menyingkap adalah salah satu keahlian saya sejak SD. ups!
Dari beberapa artikel yang saya baca mengenai istilah (gaya) hipster dan mainstream anak muda, didapat beberapa contoh pembeda bagi keduanya. Sebagai gambaran, berikut contohnya:
Fashion. Misalnya lagi trend baju tie dye, atau yang kemaren2 sempet musim bucket het,tote bag,dan yang sekarang lagi rame2nya waist bag, yang asal mulanya hanya anak2 skateboard aja yang memakai itu. Sampai ahirnya anak-anak musiman yang pengen dibilang keren, sebut saja kaum mainstream, intinya gak bakal mau ketinggalan buat ngikutinnya, pokonya ikut pasar-lah. Kaum hispter biasanya lebih suka membuat stylenya sendiri atau memakai merk terkenal yang ga semua orang punya atau mampu beli (sadis!).
Teknologi. Ini nih yang paling gampang ke detect. Contoh, fenomena pemakai handphone BB (BukBeri) atau tablet. (Ketahuan deh banyak pejabat yang mainstream, wkwkwkwwk!!). Kaum hipster, biasanya lebih ke fungsional atau malah pakai merek asing. Asing disini maksudnya bukan ekspor tapi bener-bener asing! Lagian, ga ada juga hape merek lokal, hahahaha!!
Kendaraan. Saat sebuah merek sudah terlalu banyak pemake-nya wara wiri kesana kemari...maka disanalah para hipster akan bereaksi. Mereka bakal milih merek lain sekalipun ga populer. "Biar pun begitu, 5 taon lagi, dikampung ini cuma gua doank yang punya!" begitu prinsipnya.
Musik. Jangan harap para hipster akan nongkrong di tipi buat nonton acara musik yang diputar tiap hari pagi-pagi di tv swasta itu. Mereka lebih baik dengerin radio atau datang ke giggs atau malah ke ballroom hotel buat nonton konser VIP musisi kelas dunia.
Keharusan. Kaum mainstream: ikut trend. Kaum hipster: ekslusif.
Pantangan. Kaum mainstream: ketinggalan trend. Kaum hispter: keseragaman.
Mainstream: realis. Hipster: idealis. (maybe).
Menjadi ironi, saat kaum mainstream atau pun hipster ini terkadang maksa. Saat ada sebuah merek terkenal dan banyak pemakainya mereka cenderung maksain buat beli sekalipun mahal dan ga fungsional. Yang satu alasannya karna ga mau ketinggalan, yang satu lagi gak mau pasaran.
Yang tadinya nggak suka musik keras jadi mendadak suka karena ikut-ikutan biar dianggap keren. Imbasnya lahirlah band-band rock "setengah jadi" karena industri musik pun sekarang sudah sangat mainstream.
Yang tadinya sederhana dan bersahaja terpaksa ngabisin duit cuma buat impor sepatu atau jam tangan super canggih langsung dari Amrik hanya karna mau tampil beda. Kalau semua udah begini yang tadinya eksklusif malah jadi mainstream.
Pada akhirnya, mainstream atau pun hipster bukanlah sesuatu hal yang penting untuk dipergunjingkan, sehingga terbuang sudah waktumu sia-sia membaca post ini. Siapapun kamu bukan masalah, selama kamu nyaman dan membuat nyaman orang-orang disekitarmu.
Well, apakah perumpamaan saya soal mainstream dan hipster salah?
Jika salah berarti saya berhasil!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment