Dalam salah satu lagu Efek
Rumah Kaca ada sebuah lagu yang berjudul ‘Jatuh Cinta Itu Biasa
Saja’. Lagu yang bercerita tentang cinta dari sudut pandang
yang lebih sederhana, tanpa menjadikan cinta itu sendiri suatu picisan yang
berlebihan. Maka jika jatuh cinta itu biasa saja, harusnya putus cinta juga
bisa biasa saja dong? Tapi nyatanya untuk membuatnya jadi biasa mungkin tidak
mudah, dan harus ada faktor yang mendukung untuk bisa menjadikan itu biasa
saja.
Apa itu cinta? Cinta itu apa?
Untuk apa itu cinta? cinta itu bagi saya tahayul, banyak yang bilang cinta itu
indah, tapi menurut pandangan saya cinta itu bikin nangis. (tapi jika nangis
itu untuk cewek ya, kalau cowok sih strong tapi kadang nangis juga sih jika
benar-benar tulus sayang banget lalu ditinggalin)
Bukan karena saya nggak punya
rasa sayang, rasa sayang saya labih kepada skateboard dan gitar mungkin. Dimana
skateboard dan gitar itu selalu bisa bikin saya bahagia.
Meluncur, jatoh, bangkit
lagi, lalu jatoh lagi, kotor, sakit, bengkak, bahkan sampai berdarah, tapi saya
tetap senyum, selalu ada canda dan tawa,
keringat, puas, bahagia selalu muncul bersamaan tanpa selisih waktu.
Skate is fun man! Itu yang dirasain saya dan teman2 saya.
Setiap hari, saya selalu
nyanyi. Nyanyi apa saja yang saya suka. Entah itu lagi dijalan dalam
mengendarai motor, maen skate, sendirian di kamar, atau bahkan sedang berak pun
saya selalu nyanyi. Seolah olah hidup itu hanya untuk bernyanyi. Saya pernah
mendengar keponakan saya nyanyi "Balonku" dengan pembawaan lagu yang
ringan dengan pelafalan lirik yang mudah dinyanyikan. Lagu Balonku adalah merupakan lagu wajib yang
selalu dinyanyikan oleh hampir seluruh siswa/siswi taman kanak-kanak dimanapun
di Indonesia. Rasanya tidak mungkin jika ada anak Indonesia yang tidak hafal
lagu itu.
Tentang putus cinta yang
seharusnya juga bisa biasa saja. Lagu itu mengandung arti yang besar bagi
siapapun yang sedang patah hati karena putus cinta. Lagu itu mengajarkan kita
pendengarnya untuk menjaga apa yang kita punya, dan tidak menangisi apa yang
sudah pergi, dengan penegasan pada lirik, “balonku tinggal
empat, kupegang erat-erat”.
Dari lima balon yang si anak
punya toh yang meletus cuma satu. Lepas dari keunikan lirik meletus balon
hijau, yang padahal warna hijau tidak disebutkan di kelima balon yang berwarna
merah, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Lepas dari itu, lagu balonku
mengajarkan jika ketika dalam genggaman masih ada empat balon yang kita punya,
lalu mengapa harus menangisi satu balon yang sudah pergi? Empat balon itu bisa
saja penggambaran dari keluarga, teman dekat, atau siapapun, yang sebaiknya
kita tidak menutup mata karena terbutakan oleh satu balon yang sudah pergi.
Skateboard dan gitar tidak
akan pernah bisa meninggalkan saya. Tapi suatu saat saya yang akan meninggalkan
2 benda itu. I want to stay with a skateboard and guitar for good. Namun, saya
tetap ingin bersama skateboard dan gitar untuk selamanya. Karena diantara 2
benda itu selalu ada cinta, bukan cinta yang bikin nangis, tapi cinta yang
selalu bisa bikin saya lebih hidup dan fun.
No comments:
Post a Comment