Saya menulis atas berdasarkan
keinginan saya untuk menulis. Menulis apa saja yang pengen saya tulis. Mulai dari kehidupan sehari-hari, percintaan ala remaja, review orang pacaran, review
band/musik, dan lain-lain yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh
saya untuk ditulis. Atas nama waktu luang dan dari pada bengong, maka menulis
jadi pilihan saya untuk menumpah ruah kan kata-kata. Hal-hal yang mengenai
perpindahan akal atau pikiran lalu menjadi sebuah imajinasi/daya hayal. Saya
suka membaca. Membaca apa saja yang pengen saya baca. Mulai dari blog ke blog,
webzine, buku, majalah, novel, artikel, tulisan-tulisan unik disetiap belakang
trek2 yang lewat pantura, yang saya yakin tulisan-tulisan itu adalah
curhatan dari para supir-supir trek tersebut.
Sampe bungkusan gorengan pun juga
saya baca. Sampai pada ahirnya membuat saya tertarik untuk menulis dari
seringnya saya membaca.
Selamat membaca. Dan semoga
bermanfaat! Kalau pun nggak bisa bermanfaat, ya manfaatkanlah agar
bermanfaat.
Mengawali tulisan ini adalah
dengan memenuhi keinginan seorang gadis paling jelek di desanya, yaitu Ketiwon.
Ga tau nama desanya apa. Saya taunya Ketiwon. Karena rumahnya dia deket sama
sungai yang namanya Ketiwon. Sungai yang buat penampungan orang tenggelem terseret
terbawa Bruncul. Bruncul itu semacam siluman. Jadi setiap ada orang yang
tenggelem lalu hanyut terbawa arus, pasti orang yang tenggelem itu akan
ditemukan di Sungai Ketiwon. Lalu meninggal dunia. Sadis itu siluman.
mengalahkan Afgan. Karena di Sungai itu Base campnya para bruncul. Mitos
memang. Itu kata orang seperti itu. Tapi kenyataanya memang iya sih. Soalnya
jaman dulu sering banget ada kejadian orang tenggelem. Ah sudah lah lupakan.
Sepertinya sekarang juga sudah aman-aman saja. Dan mungkin juga Brunculnya
sudah pensiun.
Kalau kalian kenal anak ini,
berarti kalian gaul. Mungkin banyak orang yang menganggap seperti itu. Banyak
orang yang ngerasa asik berteman dengan dia. Karena dia orangnya emang gak
ngebosenin. Coba aja lihat bentuk mukanya. Gepeng. Terus hidungnya yang pesek.
Terus rambutnya yang mirip sama mie ayam gak pake kuah. Tinggal disaosin aja
terus di makan. Orang seperti itu susah ditemukan. Dan memang sangat langka.
Bagaimana mau bosen coba? Aku aja seneng ngeliatin mukanya dia. Gemes. Kadang
pengen nyubit pipinya. Pake tang. Ah pokoknya dia itu nyenengin banget deh. Apa
lagi kalau ngomong. Nyetili. Rasanya pengen banget aku gulung. Tapi sayangnya
aku ga sejahat itu. Aku sempet kecewa sama dia. Udah cape-cape aku bikinin lagu
tapi suaranya dia fales. Gak pernah bener. Tapi ya gpp lah. Dia memang gak
pernah bisa nyanyi dengan bagus. Mau tau lagunya seperti apa? Kalau mau tau
nanti aku kasih tau. Kalau ga mau tau ya udah ga aku kasih tau.
Dia adalah Tari Dwi Septiana.
Seorang gadis yang punya jiwa sosial tinggi. Punya teman yang banyak. Hampir
semua orang yang ada di kota Tegal ini kenal dengan dia semua. Sedikit nakal,
jail dan petakilan. Tapi dia juga sangat baik dan pengertian orangnya. Itu yang
saya dapet selama kurang lebih 3 tahun berteman dengan dia. Selalu bisa bikin
orang tertawa.
Hidup itu terlalu singkat
untuk melewatkan hal kecil seperti sore hari menjelang buka puasa dan berkumpul
dengan keluarga lalu buka bersama. Seperti halnya saya yang rasanya sayang
sekali untuk melewatkan ketika saya yang tidak sengaja bisa berkumpul lagi dan
main bareng bersama Tari, Ulfa, dan Iffa. Meskipun hanya nongkrong saja di
Balkot dan menyaksikan teman-teman pada maen skate. Kemaren pas malam minggu,
kebeteluan ada Tari, Iffa, dan Tika. Dan teman-teman yang lain juga tentunya
yang ga bisa saya sebutin satu per satu. Tapi pas itu Ulfa ga ada. Obrolan dan
candaan ringan dengan mereka, kebersamaan yang mengingatkan aku dan mereka saat
masih berdelapan. Tari sama wesom. Iffa sama Dodi. Ulfa sama Agung. Aku sama
Nisa. Yang dimana sekarang kita semua sudah terpecah belah dan ga bisa nyatu
lagi seperti dulu. Namun masih bisa berkumpul. Tinggal Iffa sama Dodi aja yang
mungkin masih bisa bertahan dengan hubungannya meskipun dulu sempet putus tapi
sekarang sudah balikan lagi. Mungkin cara terbaik untuk saya menjalani hari
adalah dengan membiarkan seseorang yang sudah pergi begitu saja. Ga ngotot dan
ga usah berharap semua bisa balik lagi. Kalau ga bisa dapat apa yang saya
pengen, mungkin karena memang bukan itu yang pantas. Tapi mungkin akan datang,
pada suatu hari aku dan dia akan berbincang tentang banyak hal, sampai akhirnya
aku sama dia bisa saling mengerti satu sama lain, bisa saling memaafkan. Karena
ternyata yang selama ini membuat dia terus membenci ku adalah karena dia yang
sudah ga punya waktu lagi dan mungkin memang sudah enggan untuk berbincang lagi
dengan ku dan sudah tidak mau lagi untuk saling mendengar. Untuk hal sederhana
seperti "kayaknya kita udah ga bisa bareng lagi deh. Kamu terlalu baik,
aku jadi canggung untuk bisa dugem bareng kamu. Kita putus ya". Itu hanya
percakapan imajiner saja antara saya dan dia.
Saya tidak membahas Tari
saja, tapi membahas kita semua yang dulu selalu bersama. Kita hanya perlu diam
dalam sujud syukur atas apa yang Tuhan berikan atas pertemanan kita dulu. Kita
sama-sama pernah merasakan betapa indahnya kebersamaan kita dulu. Mulai dari
pertama saya kenal kalian sampai sekarang. Dan mudah-mudahan sampai tua kita
masih bisa jaga silaturahmi satu sama lain. Meskipun aku tanpa Nisa. Meskipun
aku sama Nisa ga bisa berteman lagi. Aku sama seperti orang-orang. seorang yang
terus belajar sampai kapanpun, seorang yang haus akan makna tentang kata apa,
untuk apa, kenapa ini dan itunya harus terjadi, seorang yang selalu ingin
merasakn kedamaian dan kenyamanan dalam berteman, seorang yang ingin selalu
tertawa lepas dan bahagia dalam kebersamaan. Mulai dari berdua saja antara
Wesom dan Tari. Lalu menjadi berempat antara Agung dan Ulfa. Terus menjadi
berenam antara Aku dan Nisa. Kemudian menjadi berdelapan antara Dodi dan iffa.
Kita berkumpul bersama. Yang dimana masa-masa itu ga mungkin bisa balik lagi
seperti dulu. Menulis apapun yang dulu pernah terjadi tanpa merubah cerita,
hanya untuk bercerita, untuk kenangan dan bahkan untuk ditertawakan.
No comments:
Post a Comment