Followers

Monday, 6 July 2015

Arti Tattoo Dileher Saya

Suatu malam, tepat pada malam minggu. Ketika suasana disebuah tongkrongan atau scene tempat biasa buat saya dan teman-teman saya untuk maen skate, tempat untuk kita bersenang-senang, berkumpul, bercanda, dan tertawa. Menjadi jenuh dan membosankan saat satu per satu teman-teman pergi untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Mungkin cape. Ingin segera meniduri kasur kesayangannya yang penuh dengan mimpi. Mungkin malamnya memang sudah terlalu malam. Atau mungkin bete karena hp nya mati. Lalu pulang dengan alasan ingin segera mencharger hpnya. Kemudian langsung menghubungi kekasihnya yang sudah berjam-jam dicuekin. Dan sudah diduain dengan papan berodanya yang bisa bikin lebih fun. Kenapa harus pulang? Kenapa ga nongkrong2 dulu disini? Becandaan sambil minum-minum. Minum susu bukan minum alkohol. Apalagi minum air kobokan. Jangan. Karena itu jorok. Basa basi ngobrol apa saja. Mending jorok yang ini aja yang bisa bikin kita seger, semisal kita bicara soal Mba Sri yang montok dan semok itu. Yang mungkin bisa bikin kita mupeng atau konak. Dan membuat kita menggambar secara diam-diam sambil membayangkan Mba Sri. Lalu timbul lah candaan konyol yang akan membuat kebersamaan kita semakin hangat sehangat kita membayangkan bisa membelai rambutnya Mba Sri yang hitam dan panjang itu.

Saya masih betah untuk berada di tempat itu. Tempat yang pada dasarnya tidak pernah membosankan buat saya. Mungkin buat teman-teman yang lain juga. Mereka pulang karena mereka ingin pulang. Dan mungkin memang lagi ga mood untuk nongkrong. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk tetap ditempat itu. Tapi Saya belum pengen pulang. Karena saya bosan dengan hari-hari atau kehidupan yang mungkin terasa sangat monoton. Semonoton saat kalian merasa hidup kalian lurus-lurus saja. Atau semonoton saat kalian mengeluh atas kejombloan panjang kalian yang ga kunjung punya pacar. Kejombloan yang membuat tidur kalian lebih lelap dan lebih dalam. Sehingga kalian telat untuk bangun sahur karena ga ada yang ngebangunin.

Lalu saya putuskan untuk bermain skateboard sampai malem. Gak peduli orang mau berkata: "Gak cape apa dari sore sampai malem masih maenan skate mulu" Bolehkah saya menjawab: "yang penting gak maenin perasaan perempuan aja".
Namun apalah daya mau ga mau saya juga harus ikut cabut karena suasana sudah mulai sepi dan ga asik. Saya pulang mengendarai motor yang biasa saya kendarai. Memakai helm warna putih yang biasa saya pakai. Karena helm saya memang hanya itu. Saya bukan orang yang besar kepala. Buktinya kepala saya muat memakai helm saya yang kecil itu. Dalam artian saya bukan orang yang sombong. Saya menyapa orang yang saya kenal. Atau disaat saya tidak menyapa orang yang saya kenal ketika bertemu disuatu tempat, di gigs misalnya, itu karena dia buang muka seolah-olah dia ga mau saya sapa. Lalu saya menyapa seorang teman yang berpapasan di jalan. Tapi dia hanya diam saja. Mungkin dia tidak melihat saya atau apa saya ga tahu. Mungkin dia mengendarai sambil merem. Kalau dia mengendarai sambil merem pasti dia nabrak. Atau mungkin dia tidak mendengar bahwa saya memanggil nama dia karena kuping dia sedang asik mendengarkan lagu yang ada diheadsetnya. Dan dia pun mengendarai motornya dengan sangat kencang. Mungkin sedang terburu-buru untuk menemui sang jamban. Dalam artian dia sudah kebelet untuk berak. Lupakan masalah teman saya yang itu. Dia memang benar-benar tidak melihat. Bukan karena dia buta. Tapi memang ga ngeliat saya yang berada didepannya pas itu.

Disini saya akan bicara mengenai arti tattoo yang ada di leher saya. Maaf saya terlalu terbelit-terbelit untuk menceritakan sebelum ahirnya sampai pada pembahasan tattoo ini. Sebuah tattoo yang menggambarkan skatebord yang patah. Tersisa satu truck dan terisisa dua wheels atau ban. Yang dimana skateboard yang patah itu masih bisa bersama atau nyatu meskipun patah. Meskipun ga bisa utuh seperti semula. Paling eggak satu sisi skateboard yang lain masih bisa menemani untuk saya simpan dalam lemari. Atau bila perlu saya simpan dalam hati. Yang satu saya simpan dan yang satunya lagi saya gambarkan dileher saya ini. Ga seperti seseorang yang memutuskan pacarnya lalu putus hubungan dan tidak terkoneksi dengan baik lagi. Kurang lebih seperti itu dan lebih kurang kaya gitu. Suka-suka saya saja dalam mengartikan semua ini. Sebuah tattoo yang akan menjadi penghalang buat saya ketika saya harus menemui calon mertua saya nanti yang mungkin akan mempermasalahkan masalah tattoo saya ini. Tapi tidak terlalu saya pikirkan. Karena tuhan maha baik. Semua pasti akan berjalan lancar dan baik-baik saja.


Silahkan diminum dulu tehnya. Maaf jikalau tehnya kurang manis. Karena yang manis-manis tidak baik untuk kesehatan tubuh kita. Yang manis-manis selalu saja menyisakan yang pahit-pahit. Dan ini ada sedikit cemilan silahkan dimakan. Maaf juga kalau ini hanya tawaran imajiner saja antara saya dan kalian. Datang saja ke rumah. Kalau ga nyasar jangan lupa mampir. Terima kasih sudah setia membaca tulisan-tulisan yang saya buat. Salam hangat dari saya. Terima kasih. Bacalah doa sebelum tidur.      

No comments:

Post a Comment