Ahirnya kamu kembali lagi
meninggalkan kota ini setelah dua tahun kamu tidak pulang. Hanya seminggu saja
kamu dirumah. Lalu kembali pergi lagi. Pergi untuk kembali. Atau bahkan pergi
untuk tetap disana jikalau jodoh kamu orang sana. Dan aku, orang yang tidak
terlalu penting untuk kamu. Seseorang yang seharusnya kamu acuhkan saja
semenjak pertama kali aku muncul di kehidupan kamu. Yaitu dua tahun yang lalu.
Sampai kamu tidak perlu pamit sama aku ketika kamu akan berangkat lagi. Kamu
punya banyak sahabat yang sudah dua tahun kamu tinggalkan. Wajar saja mereka
itu sangat penting sekali untuk kamu setelah dua tahun tak bertemu.
Aku bersyukur masih ada
kesempatan untuk bisa bertemu denganmu. Terlebih, aku diberi kesempatan untuk
main ke rumahmu. Bertemu dengan orang tua kamu, simbah kamu, dan Amir (adik
kamu). Ada rasa senang ketika aku bisa ngobrol dengan bapak ibu kamu, ketika
aku disuruh nyopot bambu dan antena tv yang mungkin sudah terlalu usang untuk
tetap dipasang. Disitu aku merasa sangat berguna sekali untuk diriku sendiri
dan untuk bapak kamu. Masakan ibu kamu yang sempat ditawarkan, tidak sempat aku
memakannya. Karena aku keburu pergi bersama kamu dan adik kamu.
Ada rasa nyaman ketika aku
ngobrol dengan simbah kamu. Seolah-olah dia selalu memancing aku untuk
cepat-cepat melamarmu. Dia takut kamu kecantol sama orang lain disana. Aku sih
santai, sama sekali gak takut kamu akan kecantol sama orang lain. Karena aku
yakin kalau jodoh itu gak bakalan ketuker. Padahal kita pacaran aja enggak. Dan
menurut aku buat apa pacaran? Kalau ahirnya putus untuk berpisah, bukan putus
untuk menikah. Dan simbah kamu, nyuruh aku untuk main ke rumah kalau ada waktu
senggang walaupun kamu dan orang tuamu sudah tidak ada dirumah. Ada rasa
bahagia juga ketika aku mengajak adik kamu ke sebuah Mall, ngajak dia maen-maen
disana, maen PS disamping rumah, dan ngajak shalat maghrib di Mesjid. Rasanya
senang sekali ketika melihat dia sedang asik bermain-main.
Kini, sudah 4 hari kamu
meninggalkan kota ini, kota dimana kamu dilahirkan dan dibesarkan. Kota dimana
kamu menemukan banyak cinta dari teman-teman atau sahabat-sahabatmu. Kota
dimana kita bisa saling kenal. Kota dimana ketika dua tahun yang lalu kita
makan martabak spesial disuatu taman. Lalu aku berucap bolehkah aku menjalin hubungan
serius sama kamu?, untuk melamarmu, lalu menikahimu. Namun ternyata gak
segampang itu. Gak segampang mulutku berucap seperti itu. Semua butuh waktu,
proses, dan perjuangan. Aku pernah terjatuh ketika aku sedang berlari
mengejarmu, hanya agar engkau tau bahwa aku memang menginginkamu. Tidak perlu
aku jelaskan semua orang pasti tau gimana rasanya jatuh. Untungnya, aku gak
sampe keinjek-injek dan ketendang-tendang. Aku masih bisa bangun dan berdiri
lagi. Aku juga pernah mengalah dan inisiatif saja saat kau ingin menjauh dariku
agar kau bahagia bersama pilihanmu waktu itu. Namun pada nyatanya, pilihanmu
lah yang malah membuatmu kecewa berat sehingga membuatmu susah untuk membuka
hati kamu untuk siapapun. Termasuk aku. Membuatmu berasumsi bahwa kamu salah
milih pasangan ketika itu. Dan menganggap semua cowok itu sama. Dan itu juga
yang dulu membuat aku pernah menghilang dari kamu ketika kamu lebih memilih
cowok itu. Aku bukanlah seorang bajingan yang suka menempelkan hidung belangnya
kepada mereka yang sudah bersama kekasih yang dicinta. Hidung aku mulus dan
tidak belang-belang. Dan kamu tau itu ketika sedang ada didekat aku.
Meninggalkan kota ini bukan
lantas tanpa sebab dan alasan. Namun untuk mencari rejeki di kota orang. Karena
memang sudah sedari dulu usaha orang tua kamu berjalan disana. Dan kamu, sudah
pasti akan jadi penerus usahanya orang tua kamu. Dengan kemungkinan besar kamu
akan lebih lama dan lebih lama lagi disana. Di kota yang tidak dekat. Tidak
juga terlalu jauh. Karena masih berada di Indonesia.
Aku tidak perlu bertanya tentang
perasaanmu padaku. Aku hanya perlu tentang keingatanmu padaku. Udah itu saja.
Aku juga tidak perlu bertanya apakah kamu jodohku?. Karena tuhan sudah
menentukan jawaban apa yang akan aku terima nantinya. Aku selalu berdoa untuk
pasangan hidupku. Entah itu siapa untuk saat ini aku sama sekali tidak pernah
tau. Karena mungkin tuhan masih enggan memberi tau. Sambil berharap dirimu akan
memikirkanku, dan suatu saat, jika tuhan mengijinkan, kau akan hidup bersama
ku.
Kau tentu saja bertanya,
mengapa aku memilihmu? Kalau nyatanya aku hanya setengah-tengah saja
memperjuangkanmu. Jika saja kau memang sendiri, dan jika saja kau memang
menghendaki, maka tentu saja aku akan menghampirimu. Tak peduli apakah sepuluh
jam atau lebih adalah tumbal waktu yang harus kubayar demi menemui kamu disana.
Menemui adik kamu dan bapak ibu kamu. Tak peduli misalnya aku harus berjuang
melawan segala yang jahat di dunia ini untuk melindungimu. Tak peduli misalnya
aku harus memohon kepada orang tua kamu untuk meminta restu kepada bapak ibumu.
Aku punya prinsip, dan apabila prinsip ini menyebabkanmu bertanya-tanya tentang
apa mauku, maka dengan ini aku minta maaf. Suatu saat, entah itu kapan, jika
memang kamu bukan jodoh ku, maka ada yang harus terhenti, agar yang lain bisa
berjalan kembali. Yakni hidupku dan hidupmu. Biarkanlah aku menulis yang
mungkin dapat tertangkap oleh matamu, bahkan hatimu ketika aku tidak ada lagi.
No comments:
Post a Comment