Followers

Monday, 27 July 2015

Biarkanlah Aku Menulis

Ahirnya kamu kembali lagi meninggalkan kota ini setelah dua tahun kamu tidak pulang. Hanya seminggu saja kamu dirumah. Lalu kembali pergi lagi. Pergi untuk kembali. Atau bahkan pergi untuk tetap disana jikalau jodoh kamu orang sana. Dan aku, orang yang tidak terlalu penting untuk kamu. Seseorang yang seharusnya kamu acuhkan saja semenjak pertama kali aku muncul di kehidupan kamu. Yaitu dua tahun yang lalu. Sampai kamu tidak perlu pamit sama aku ketika kamu akan berangkat lagi. Kamu punya banyak sahabat yang sudah dua tahun kamu tinggalkan. Wajar saja mereka itu sangat penting sekali untuk kamu setelah dua tahun tak bertemu.

Aku bersyukur masih ada kesempatan untuk bisa bertemu denganmu. Terlebih, aku diberi kesempatan untuk main ke rumahmu. Bertemu dengan orang tua kamu, simbah kamu, dan Amir (adik kamu). Ada rasa senang ketika aku bisa ngobrol dengan bapak ibu kamu, ketika aku disuruh nyopot bambu dan antena tv yang mungkin sudah terlalu usang untuk tetap dipasang. Disitu aku merasa sangat berguna sekali untuk diriku sendiri dan untuk bapak kamu. Masakan ibu kamu yang sempat ditawarkan, tidak sempat aku memakannya. Karena aku keburu pergi bersama kamu dan adik kamu.

Ada rasa nyaman ketika aku ngobrol dengan simbah kamu. Seolah-olah dia selalu memancing aku untuk cepat-cepat melamarmu. Dia takut kamu kecantol sama orang lain disana. Aku sih santai, sama sekali gak takut kamu akan kecantol sama orang lain. Karena aku yakin kalau jodoh itu gak bakalan ketuker. Padahal kita pacaran aja enggak. Dan menurut aku buat apa pacaran? Kalau ahirnya putus untuk berpisah, bukan putus untuk menikah. Dan simbah kamu, nyuruh aku untuk main ke rumah kalau ada waktu senggang walaupun kamu dan orang tuamu sudah tidak ada dirumah. Ada rasa bahagia juga ketika aku mengajak adik kamu ke sebuah Mall, ngajak dia maen-maen disana, maen PS disamping rumah, dan ngajak shalat maghrib di Mesjid. Rasanya senang sekali ketika melihat dia sedang asik bermain-main. 

Kini, sudah 4 hari kamu meninggalkan kota ini, kota dimana kamu dilahirkan dan dibesarkan. Kota dimana kamu menemukan banyak cinta dari teman-teman atau sahabat-sahabatmu. Kota dimana kita bisa saling kenal. Kota dimana ketika dua tahun yang lalu kita makan martabak spesial disuatu taman. Lalu aku berucap bolehkah aku menjalin hubungan serius sama kamu?, untuk melamarmu, lalu menikahimu. Namun ternyata gak segampang itu. Gak segampang mulutku berucap seperti itu. Semua butuh waktu, proses, dan perjuangan. Aku pernah terjatuh ketika aku sedang berlari mengejarmu, hanya agar engkau tau bahwa aku memang menginginkamu. Tidak perlu aku jelaskan semua orang pasti tau gimana rasanya jatuh. Untungnya, aku gak sampe keinjek-injek dan ketendang-tendang. Aku masih bisa bangun dan berdiri lagi. Aku juga pernah mengalah dan inisiatif saja saat kau ingin menjauh dariku agar kau bahagia bersama pilihanmu waktu itu. Namun pada nyatanya, pilihanmu lah yang malah membuatmu kecewa berat sehingga membuatmu susah untuk membuka hati kamu untuk siapapun. Termasuk aku. Membuatmu berasumsi bahwa kamu salah milih pasangan ketika itu. Dan menganggap semua cowok itu sama. Dan itu juga yang dulu membuat aku pernah menghilang dari kamu ketika kamu lebih memilih cowok itu. Aku bukanlah seorang bajingan yang suka menempelkan hidung belangnya kepada mereka yang sudah bersama kekasih yang dicinta. Hidung aku mulus dan tidak belang-belang. Dan kamu tau itu ketika sedang ada didekat aku.
 
Meninggalkan kota ini bukan lantas tanpa sebab dan alasan. Namun untuk mencari rejeki di kota orang. Karena memang sudah sedari dulu usaha orang tua kamu berjalan disana. Dan kamu, sudah pasti akan jadi penerus usahanya orang tua kamu. Dengan kemungkinan besar kamu akan lebih lama dan lebih lama lagi disana. Di kota yang tidak dekat. Tidak juga terlalu jauh. Karena masih berada di Indonesia.

Aku tidak perlu bertanya tentang perasaanmu padaku. Aku hanya perlu tentang keingatanmu padaku. Udah itu saja. Aku juga tidak perlu bertanya apakah kamu jodohku?. Karena tuhan sudah menentukan jawaban apa yang akan aku terima nantinya. Aku selalu berdoa untuk pasangan hidupku. Entah itu siapa untuk saat ini aku sama sekali tidak pernah tau. Karena mungkin tuhan masih enggan memberi tau. Sambil berharap dirimu akan memikirkanku, dan suatu saat, jika tuhan mengijinkan, kau akan hidup bersama ku.

Kau tentu saja bertanya, mengapa aku memilihmu? Kalau nyatanya aku hanya setengah-tengah saja memperjuangkanmu. Jika saja kau memang sendiri, dan jika saja kau memang menghendaki, maka tentu saja aku akan menghampirimu. Tak peduli apakah sepuluh jam atau lebih adalah tumbal waktu yang harus kubayar demi menemui kamu disana. Menemui adik kamu dan bapak ibu kamu. Tak peduli misalnya aku harus berjuang melawan segala yang jahat di dunia ini untuk melindungimu. Tak peduli misalnya aku harus memohon kepada orang tua kamu untuk meminta restu kepada bapak ibumu. Aku punya prinsip, dan apabila prinsip ini menyebabkanmu bertanya-tanya tentang apa mauku, maka dengan ini aku minta maaf. Suatu saat, entah itu kapan, jika memang kamu bukan jodoh ku, maka ada yang harus terhenti, agar yang lain bisa berjalan kembali. Yakni hidupku dan hidupmu. Biarkanlah aku menulis yang mungkin dapat tertangkap oleh matamu, bahkan hatimu ketika aku tidak ada lagi.





No comments:

Post a Comment