Hari ini, hari sabtu 18 juli 2015. Bukan harimau ataupun hari supriyadi tetangga saya yang pernah saya ceritain waktu itu. Seseorang yang menyebalkan. Seseorang yang suka numpang berak di toilet rumah saya. Gak pernah nyiram dengan bersih sehabis nongkrong di jamban. Masih ada sisa-sisa yang ngambang. Itu yang membuat saya sebal sama dia. Seseorang yang suka numpang makan juga dirumah saya. Ya udah sih gpp. Dia baik juga orangnya. Suka memberi, membantu, dan suka menabung. Walaupun hasil tabungannya selalu dia jebol setiap minggunya. Suka mengintip Mba Sumi juga jikalau Mba Sumi sedang mandi. Kebetulan Mba Sumi itu janda dan Hari Supriyadi itu duda muda.
Saya bersyukur, alhamdulillah saya masih diberi hidup. Masih bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan sehabis shalat shubuh. Masih bisa merasakan hangatnya sinar matahari di pagi hari yang memang lagi dingin sekali. Masih bisa merasakan juga betapa indahnya hari raya idul fitri. Hari yang penuh dengan maaf-maafan. Mohon dimaafin jikalau saya punya salah sama kalian siapa saja yang sedang membaca tulisan ini. Bertemu dengan sanak saudara. Saudara yang saya kenal banget ataupun yang sama sekali gak saya kenal.
Hari ini juga, saya akan datang ke rumah calon mertua (jika boleh disebut seperti itu dan jika tidak gagal dan jika tuhan menghendaki dan dannya kebanyakan). Untuk silaturahmi dan agar mereka bisa lihat wujud saya seperti apa. Saya gak bisa mengklaim bahwa diri saya adalah orang baik. Baik itu relatif. Tapi mereka pasti bisa merasakan niat baik saya dengan datangnya saya ke rumah. Jujur saya takut, tapi bukan berarti saya gak berani juga. Saya berani, namun malu. Malu dengan keadaan saya yang kaya gini. Keadaan saya yang punya tattoo dileher. Dan itu akan menjadi pertanyaan untuk mereka dan menjadi penghalang untuk saya. Saya hanya bermodalkan bismillah dan niat baik saja.
Suatu hari, saya pernah melihat seorang pria sekujur badannya di tattoo. Pria itu dengan seorang istri yang cantik dan berjilbab. Menggendong sang anak yang lucu dan menggemaskan. Pengen rasanya saya cubit. Bukan pake tang tapi pake kelembutan tangan. Dengan seorang bapak dan ibu yang sepertinya bapak dan ibu itu adalah sang mertua dari si pria bertattoo itu. Saya memandangi mereka. Betapa bahagianya mereka. Saya mengambil kesimpulan: Seorang pria bertattoo itu pasti telah berjuang keras dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan wanita itu dan untuk mendapatkan restu dari bapak ibunya. Ya, saya memang harus berjuang keras dan sungguh-sungguh juga seperti pria itu untuk mendapatkan restu dari bapak dan ibunya wanita yang hari ini rumahnya mau saya datengin. Tapi hari ini saya dateng kerumahnya bukan untuk meminta restu. Cuma untuk tau respon mereka seperti apa ketika melihat saya.
Ini bukan soal kata cinta ataupun kata sayang. Bukan juga kata-kata "Aku suka kamu" bukan. Sungguh bukan soal itu. Tapi ini soal keyakinan, keseriusan, dan kemantapan hati. Aku yakin, aku serius, dan aku mantap insya allah kamulah jodoh ku. Dan sungguh ingin sekali aku jadikan kamu istri jikalau kamu mau menerima aku. Ini kedua kalinya aku bilang kaya gini sama kamu. Dua tahun yang lalu aku pernah bilang kaya gini. Tapi kamu takut. Kamu gak terlalu yakin. Kamu selalu terbayang sama masa lalu kamu yang membuat kamu pernah kecewa berat. Dan itu kamu jadikan pembelajaran untuk kedepannya. Gak semuanya orang itu sama. Semua orang beda-beda. Masa lalu kamu jangan dijadikann sesuatu yang menakutkan buat kamu. Buka hati kamu selebar-lebarnya bahwa ada seorang pria yang bener-bener ingin nyeriusin kamu sedari dulu. Sebelum saya bertemu dengan wanita klepto itu yang mengambil hatiku lalu dibuat hancur lebur berantakan dan kacau balau berkeping-keping tak karuan dan membuat hidupku seketika runyam. Ataupun wanita-wanita lainnya sebelum kamu.
Untuk masalah LDR memang susah. Tapi aku punya niat baik sama kamu. Orang yang punya niat baik insya allah akan dimudahkan dan diberi keyakinan. Namun tetap saja semua itu tergantung kamu dan tergantung restu dari bapak ibu kamu. Aku hanya bisa berusaha. Kalaupun jodoh pasti ada saja jalannya. Insya allah dan bismillah.
No comments:
Post a Comment